Senin, 19 Mei 2014

Perbedaan Tunneling Protocol, VPN dan IPse

 ANALISIS PERANCANGAN JARINGAN KOMPUTER

I.    Tunneling Protocol
Pada dasarnya jaringan komputer menggunakan sebuah tunneling protokol saat data dalam protokol HTTP di-enkapsulasi (dibungkus) dalam protokol SSL sebagai payload. Secara sederhana tunneling berarti mengirimkan data melalui koneksi lain yang sudah terbentuk , sebagai contoh saat Anda membuka situs internet banking, pasti dalam awalan akan terdapat URL "https", yang itu sebenarnya adalah data dalam protokol HTTP yang dikirimkan melalui koneksi dengan protokol SSL, atau "HTTP over SSL". Dalam bahasa gaulnya "HTTP digendong SSL".
Gambar 1. Tunneling Protocol


II.  VPN (Virtual Private Network)
Apakah VPN itu?
Virtual Networking: menciptakan ‘tunnel’ dalam jaringan yang tidak harus direct. Sebuah ‘terowongan’ diciptakan melalui public network seperti Internet. Jadi seolaholah ada hubungan point-to-point dengan data yang dienkapsulasi.
Private Networking: Data yang dikirimkan terenkripsi, sehingga tetap rahasia
meskipun melalui public network.

Cara Kerja
VPN bisa bekerja dengan cara:
  1. dial-up
  2. bagian dari router-to-router
Tunnel dalam VPN sebenarnya hanya logical point-to-point connection dengan otentikasi dan enkripsi. Analoginya adalah kalau sebuah organisasi/perusahaan punya kantor di 2 gedung yang berbeda. Nah, untuk orang/informasi bergerak dari satu kantor ke kantor lainnya, bisa melalui:
  1. kaki lima atau jalan umum
  2. menggali lubang di bawah tanah (analog dengan VPN).
VPN paling sering menggunakan lapisan data link, misalnya:
  1. Point-to-Point Tunneling Protocol (PPTP) dari Microsoft. Contoh yang lain adalah Layer 2 Forwarding (L2F) dari Cisco yang bisa bekerja pada jaringan ATM dan Frame Relay. L2F didukung oleh Internetwork Operating System yang didukung oleh router-router Cisco.
  2. Yang terbaru adalah Layer 2 Tunneling Protocol (L2TP) yang mengkombinasikan elemen dari PPTP dan L2F.
VPN vs Dial-up Networking:
Misalnya seorang pegawai yang mobile bertugas antarkota. Bisa saja pakai dial-up service, tetapi kalau dial-up antar kota, bisa mahal sekali. Oleh karena itu menggunakan ISP lokal + VPN, untuk mengakses LAN perusahaan.
Selain itu VPN juga akan mereduksi jumlah telephone line & modem bank yang perlu disediakan perusahaan. Perusahaan cukup menyediakan 1 koneksi saja ke Internet. Hal ini akan mereduksi cost dari perusahaan.
Keuntungan VPN terhadap dial-up access:
  1. menghemat biaya interlokal
  2. membutuhkan lebih sedikit saluran telepon di perusahaan
  3. membutuhkan hardware yang lebih sedikit (seperti modem bank)

Kerugian VPN
  1. kedua endpoints dari VPN, koneksinya harus reliable. Sebagai contoh, kalau ISP di sisi client (sang telecommuter employee) tidak bisa diakses/di-dial, maka tentu VPN tidak bisa juga! Lain halnya kalau bisa dial-up service ke kantor.
  2. Performance VPN bisa lebih lambat daripada dial-up service yang biasa tanpa VPN. Hal ini disebabkan karena ada proses tunneling dan enkripsi/dekripsi.

Remote Access VPN
  1. Home user atau mobile user men-dial ke ISP
  2. Setelah ada koneksi Internet, client menghubungkan diri ke remote access server yang telah dikonfigurasikan dengan VPN.
  3. User diotentikasi, dan akses kemudian diizinkan.
Gambar 2. Virtual Private Network

III.    Internet Protocol Security (IPsec).     
Internet Protocol Security (IPsec) adalah protokol untuk mengamankan Internet Protocol (IP) komunikasi dengan otentikasi dan enkripsi setiap paket IP dari sebuah sesi komunikasi. IPsec juga mencakup protokol untuk mendirikan otentikasi bersama antara agen pada awal sesi dan negosiasi kunci kriptografi yang akan digunakan selama sesi.
IPsec merupakan end-to-end security skema yang beroperasi di layer internet dari Internet Protocol Suite . Hal ini dapat digunakan dalam melindungi aliran data antara sepasang host (host-to-host), antara sepasang gateway keamanan (jaringan-jaringan), atau antara gateway keamanan dan host(jaringan-to-host) .
IPsec adalah penerus dari standar ISO Layer Security Jaringan Protokol (NLSP). NLSP didasarkan pada protokol SP3 yang diterbitkan oleh NIST , tetapi dirancang oleh proyek Sistem Jaringan Data Aman dari National Security Agency (NSA). IPsec secara resmi ditetapkan oleh Internet Engineering Task Force (IETF) dalam serangkaian Request for Comment dokumen menangani berbagai komponen dan ekstensi. Ini menentukan ejaan dari nama protokol IPsec.
Gambar 3. Ip security


sumber :
  1. http://ghutem.blogspot.com/2012/11/ip-security-ipsec.html
  2. http://blogie27.blogspot.com/2011/12/635-vpn-tunneling.htm

Jaringan Backbone

ANALISIS PERANCANGAN  JARIGAN KOMPUTER
 
Backbone merupakan sebuah teknik yang digunakan dalam penggabungan beberapa jaringan lokal pada masing-masing lantai dari bangunan bertingkat dengan menggunakan satu jalur kabel utama dan khusus. Backbone merupakan jalan, saluran utama, atau bisa disebut dengan jalan tol dalam sebuah jaringan.

 Teknik backbone merupakan teknik yang paling banyak digunakan karena dapat mencega bottleneck yang terjadi pada server. Kabel yang digunakan biasanya adalah jenis serat optik, kabel RG-58, atau RG-8. Sedangkan konektor yang digunakan adalah ST untuk serat optik, BNC untuk kabel RG-58, dan AUI untuk kabel RG-8.
Hal yang perlu diperhatikan sebelum membangung jaringan backbone:
  • Kebutuhan yang berkaitan dengan desain akses jaringan, meliputi jenis data, pelayanan, IP, dan frame relay
  • Kapasitas yang dibutuhkan dalam membangun jaringan backbone tergantung pada desain keluarannya
  • Topologi dan teknologi yang akan digunakan perlu dipertimbangkan
  • Topologi akan berpengaruh pada jumlah dan letak node, desain saluran, maupun keseluruhan desain akses backbone
Backbone menyediakan banyak efisiensi yang tidak disediakan oleh jaringan meshed-access, meliputi:
  • Penggabungan lalu lintas (mengeliminasi path (saluran) yang memilki tipe lalu lintas berbeda)
  • Platform dengan bandwidth yang tinggi
  • Rerouting dan redundancy
  • Skala ekonomis
  • Arsitektur untuk memperbaiki kerusakan atau gangguan sendiri
  • Berbagi perlengkapan dan fasilitas antar berbagai lokasi
  • Routing yang cerdas
  • Bandwidth dinamik dengan alokasi sumber daya
  • Topologi yang fleksibel dengan berbagai gaya desain
  • Pengaturan jaringan yang terpusat maupun terdistribusi
  • Fleksibilitas
Desain Jaringan Utama (Backbone)
A. Teknologi dalam Membangun Jaringan Backbone
Dalam membangun jaringan backbone, teknologi yang perlu dipersiapkan antara lain:
  • Bridge backbone ring
  • Fiber Distributed Data Interface (FDDI) : 100 Mbps, Sistem dual ring dengan protocol MAC token ring
  • Asynchronous Transfer Mode ( ATM ), lokal switch, atau public switch
FDDI merupakan protokol yang digunakan untuk transmisi pada jaringan yang mempunyai Token Passing Ring yang dapat meningkatkan kinerja jaringan. FDDI menggunakan serat optik dengan kecepatan transmisi mencapai 100 Mpbs. FDDI dapat menghubungkan sampai 500 terminal dengan jarak maksimum 2 km.
Asynchronous Transfer Mode ( ATM ) merupakan teknologi ini dikembangkan pada awal tahun 1990-an. Prinsip pada ATM adalah setiap informasi harus ditransfer ke dalam bentuk sel. ATM memiliki kecepatan transfer data yang tinggi, yaitu mencapai 150 Mpbs. Teknologi ini sangat cocok digunakan dalam pengiriman data dalam bentuk suara atau gambar (multimedia).

B. Teknik Pengkabelan
Sistem kabel pada jaringan backbone harus menyediakan interkoneksi antara ruang peralatan komunikasi, ruang telekomunikasi, ruang terminal utama, dan fasilitas masuk dalam struktur sistem telekomunikasi kabel. sistem pengkabelan terdiri dari kabel backbone, kabel patch atau jumper yang digunakan untuk menghubungkan lalu lintas transfer data. Kabel backbone menghubungkan lalu lintas utama data. Warna sebutan untuk tipe kabel serat antara lain:
Single Mode fiber> Kuning
Multi Mode fiber 62.5 micron > Orange
Multi Mode fiber 50 micron 1GB > Orange
Multi Mode fiber 50 micron 10GB > Aqua

C. Topologi Jaringan Backbone
Topologi Bus
Topologi bus sering juga disebut sebagai topologi backbone, dimana ada sebuah kabel coaxial yang dibentang kemudian beberapa komputer dihubungkan pada kabel tersebut.
Secara sederhana pada topologi bus, satu kabel media transmisi dibentang dari ujung ke ujung, kemudian kedua ujung ditutup dengan “terminator” atau terminating-resistance (biasanya berupa tahanan listrik sekitar 60 ohm). Pada titik tertentu diadakan sambungan (tap) untuk setiap terminal. Wujud dari tap ini bisa berupa “kabel transceiver” bila digunakan “thick coax” sebagai media transmisi atau berupa “BNC T-connector” bila digunakan “thin coax” sebagai media transmisi atau berupa konektor “RJ-45” dan “hub” bila digunakan kabel UTP.

Transmisi data dalam kabel bersifat “full duplex”, dan sifatnya “broadcast”, semua terminal bisa menerima transmisi data. Suatu protokol akan mengatur transmisi dan penerimaan data, yaitu Protokol Ethernet atau CSMA/CD. Pemakaian kabel coax (10Base5 dan 10Base2) telah distandarisasi dalam IEEE 802.3

Sabtu, 03 Mei 2014

EIGRP (Enchanced Interior Gateway Routing Protocol)

EIGRP (Enchanced Interior Gatway Routing Protocol)

EIGRP termasuk protokol proprietari milik Cisco, dan hanya bisa dijalankan pada router Cisco, merupakan protokol routing terbaik jika saja kita memiliki router Cisco. EIGRP menggunakan algoritma DUAL untuk menandingi OSPF.

Kelebihan-kelebihan EIGRP 
  1. Satu-satunya protokol routing yang menggunakan route backup. Selain memaintain tabel routing terbaik, EIGRP juga menyimpan backup terbaik untuk setiap route sehingga setiap kali terjadi kegagalan pada jalur utama, maka EIGRP menawarkan jalur alternatif tanpa menunggu waktu convergence.
  2. Mudah dikonfigurasi semudah RIP.
  3. Summarization dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Pada OSPF summarization hanya bisa dilakukan di ABR dan ASBR.
  4. EIGRP satu-satunya yang dapat melakukan unequal load balancing.
  5. Kombinasi terbaik dari protokol distance vector dan link state.
  6. Mendukung multiple protokol network  (IP, IPX, dan lain-lain).

Router yang menjalankan EIGRP me-maintain 3 jenis tabel
  • Tabel neighbor: seperti OSPF, EIGRP juga menjalin neighbor relationship tetapi dengan cara yang lebih mudah.
  • Tabel topologi
  • Tabel routing

Konfigurasi EIGRP


    R1#
    R1#conf t
    Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
    R1(config)#router eigrp 10
    R1(config-router)#network 192.168.1.0 0.0.0.255
    R1(config-router)#^Z
    R1#

    R2#conf t
    Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
    R2(config)#router eigrp 10
    R2(config-router)#network 192.168.0.0 0.0.255.255
    R2(config-router)#^Z
    R2#


Setelah ini kita bisa melihat neighbor telah terdeteksi
    R2#sh ip eigrp neighbors
    IP-EIGRP neighbors for process 10
    H   Address Interface Hold Uptime SRTT RTO  Q  Seq (sec)         (ms)       Cnt Num
    0   192.168.1.1             Fa0/0             11 00:02:33   57   342  0  3


Kemudian konfigurasi R3 sebagai berikut, sekedar informasi, EIGRP tidak menggunakan konsep area seperti pada ospf
    R3#conf t
    Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
    R3(config)#router eigrp 10
    R3(config-router)#network 192.168.0.0 0.0.255.255
    R3(config-router)#network 172.16.0.0 0.0.255.255
    R3(config-router)#^Z
    R3#


Setelah ini kita bisa mengecek tabel routing untuk melihat entri-entri route yang didapatkan dari proses EIGRP
    R3#sh ip route
    Codes: C – connected, S – static, R – RIP, M – mobile, B – BGP
    D – EIGRP, EX – EIGRP external, O – OSPF, IA – OSPF inter area
    N1 – OSPF NSSA external type 1, N2 – OSPF NSSA external type 2
    E1 – OSPF external type 1, E2 – OSPF external type 2
    i – IS-IS, su – IS-IS summary, L1 – IS-IS level-1, L2 – IS-IS level-2
    ia – IS-IS inter area, * – candidate default, U – per-user static route
    o – ODR, P – periodic downloaded static route
    Gateway of last resort is not set
    D    192.168.10.0/24 [90/2172416] via 192.168.2.1, 00:01:21, Serial0/0
    172.16.0.0/16 is variably subnetted, 9 subnets, 2 masks
    C       172.16.4.0/24 is directly connected, Loopback4
    C       172.16.5.0/24 is directly connected, Loopback5
    C       172.16.6.0/24 is directly connected, Loopback6
    C       172.16.7.0/24 is directly connected, Loopback7
    C       172.16.0.0/24 is directly connected, Loopback0
    D       172.16.0.0/16 is a summary, 00:01:10, Null0
    C       172.16.1.0/24 is directly connected, Loopback1
    C       172.16.2.0/24 is directly connected, Loopback2
    C       172.16.3.0/24 is directly connected, Loopback3
    D    192.168.20.0/24 [90/2172416] via 192.168.2.1, 00:01:21, Serial0/0
    D    192.168.1.0/24 [90/2172416] via 192.168.2.1, 00:01:21, Serial0/0
    C    192.168.2.0/24 is directly connected, Serial0/0
    C    192.168.3.0/24 is directly connected, Ethernet1/0


Mari kita lihat tabel routing pada R2 seperti berikut
    R2#sh ip route
    Codes: C – connected, S – static, R – RIP, M – mobile, B – BGP
    D – EIGRP, EX – EIGRP external, O – OSPF, IA – OSPF inter area
    N1 – OSPF NSSA external type 1, N2 – OSPF NSSA external type 2
    E1 – OSPF external type 1, E2 – OSPF external type 2
    i – IS-IS, su – IS-IS summary, L1 – IS-IS level-1, L2 – IS-IS level-2
    ia – IS-IS inter area, * – candidate default, U – per-user static route
    o – ODR, P – periodic downloaded static route
    Gateway of last resort is not set
    C    192.168.10.0/24 is directly connected, FastEthernet0/0.10
    D    172.16.0.0/16 [90/2297856] via 192.168.2.2, 00:03:10, Serial1/0
    C    192.168.20.0/24 is directly connected, FastEthernet0/0.20
    C    192.168.1.0/24 is directly connected, FastEthernet0/0
    C    192.168.2.0/24 is directly connected, Serial1/0
    D    192.168.3.0/24 [90/2195456] via 192.168.2.2, 00:03:21, Serial1/0


Perhatikan, EIGRP otomatis melakukan summarization pada network 172.16.0.0/16, auto-summarization ini dilakukan setiap ditemukan network yang discontiguous (tidak kontinyu). Contohnya diatas R3 terhubung pada network kelas A 192.168.2.0 dengan network kelas B 172.16.0.0.
Untuk men-disable fitur ini kita bisa mengeksekusi perintah no auto-summary
    R3#conf t
    Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
    R3(config)#router eigrp 10
    R3(config-router)#no auto-summary
    R3(config-router)#^Z
    R3#


Kini kita lihat kembali tabel routing pada R2
    R2#sh ip route
    Codes: C – connected, S – static, R – RIP, M – mobile, B – BGP
    D – EIGRP, EX – EIGRP external, O – OSPF, IA – OSPF inter area
    N1 – OSPF NSSA external type 1, N2 – OSPF NSSA external type 2
    E1 – OSPF external type 1, E2 – OSPF external type 2
    i – IS-IS, su – IS-IS summary, L1 – IS-IS level-1, L2 – IS-IS level-2
    ia – IS-IS inter area, * – candidate default, U – per-user static route
    o – ODR, P – periodic downloaded static route
    Gateway of last resort is not set
    C    192.168.10.0/24 is directly connected, FastEthernet0/0.10
    172.16.0.0/24 is subnetted, 8 subnets
    D       172.16.4.0 [90/2297856] via 192.168.2.2, 00:00:46, Serial1/0
    D       172.16.5.0 [90/2297856] via 192.168.2.2, 00:00:46, Serial1/0
    D       172.16.6.0 [90/2297856] via 192.168.2.2, 00:00:46, Serial1/0
    D       172.16.7.0 [90/2297856] via 192.168.2.2, 00:00:46, Serial1/0
    D       172.16.0.0 [90/2297856] via 192.168.2.2, 00:00:46, Serial1/0
    D       172.16.1.0 [90/2297856] via 192.168.2.2, 00:00:46, Serial1/0
    D       172.16.2.0 [90/2297856] via 192.168.2.2, 00:00:46, Serial1/0
    D       172.16.3.0 [90/2297856] via 192.168.2.2, 00:00:46, Serial1/0
    C    192.168.20.0/24 is directly connected, FastEthernet0/0.20
    C    192.168.1.0/24 is directly connected, FastEthernet0/0
    C    192.168.2.0/24 is directly connected, Serial1/0
    D    192.168.3.0/24 [90/2195456] via 192.168.2.2, 00:08:30, Serial1/0


Summarization dimana saja kapan saja
Seperti disinggung diatas, route summarization pada OSPF hanya bisa dilakukan pada ABR dan ASBR saja, tetapi pada EIGRP kita bisa melakukan summarization pada router manapun yang kita kehendaki.  Misal kita ingin melakukan summarization pada network 172.16.0.0 – 172.16.7.0 pada R3, sehingga hanya 1 entri yang di advertise ke router R2
    R3#conf t
    Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
    R3(config)#int s0/0
    R3(config-if)#ip summary-address eigrp 10 172.16.0.0 255.255.248.0
    R3(config-if)#^Z
    R3#


Route summarization harus dikonfigurasi dibawah setiap interface dimana entri route tersebut akan di advertise, dalam hal ini interface serial0/0. Sekarang seharusnya entri route yang didapatkan oleh R2 hanya berupa 1 entri route summary
    R2#sh ip route
    Gateway of last resort is not set
    C    192.168.10.0/24 is directly connected, FastEthernet0/0.10
    172.16.0.0/21 is subnetted, 1 subnets
    D       172.16.0.0 [90/2297856] via 192.168.2.2, 00:00:07, Serial1/0
    C    192.168.20.0/24 is directly connected, FastEthernet0/0.20
    C    192.168.1.0/24 is directly connected, FastEthernet0/0
    C    192.168.2.0/24 is directly connected, Serial1/0
    D    192.168.3.0/24 [90/2195456] via 192.168.2.2, 00:15:08, Serial1/0
    R2#
Sumber :

MikroTik

ANALISIS PERANCANGAN JARINGAN KOMPUTER

MikroTik berasal dari kata mikrotikls yang berarti “network kecil”dalam bahasa Latvia. MikroTik dengan trademark MikroTik,RouterOS dan RouterBOARD merupakan perusahaan kecil berlokasi di Riga, ibukota Latvia bersebelahan dengan Rusia dan memiliki lebih dari 70 karyawan, pembentukannya diprakarsai oleh John Trully dan Arnis Riekstins.

MikroTik yang mempunyai motto “Routing The Word” didirikan pada tahun 1995 untuk mengembangkan Router dan sistem ISP dengan wireless. Sekitar tahun 1997 MikroTik membuat sistem RouterOS perangkat lunak yang menyediakan stabilitas yang luas, kontrol, dan fleksibilitas untuk semua jenis interface data dan routing. Pada tahun 2002 MikroTik memutuskan untuk membuat perangkat keras sendiri yang mempunyai kemampuan handal sebagi mesin Router , dan merek RouterBOARD akhirnya lahir.

RouterOS


RouterOS merupakan Software Router untuk PC (x86, AMD, dll). RouterOS ini berupa sistem operasi berbasis linux yang kita install pada komputer (Personal Computer) yang mampu menjadikan sebuah PC (bahkan dengan spesifikasi yang rendah) menjadi sebuah Router yang handal dengan fitur yang lengkap.


Berikut contoh spesifikasi komputer yang bisa kita dijadikan Router dengan menggunakan MikroTik RouterOS (semakin tinggi spesifikasi komputer yang digunakan tentu akan membuat semakin baik pula unjuk kerja dari Router) :
Processor : Intel Pentium II 400 MHz
Hardisk : 4 GB
RAM : 128 MB
Network Card : 2 buah NIC
fungsi nat (network address translation) adalah Suatu Prosedur mengubah ip local mejadi ip Publick. dengan kata lain NAT merupakan perpindahan suatu alamat ip ke alamat ip lain.ada dua macam baca selenkapnya di fungsi nat

RouterBOARD




RouterBOARD merupakan hardware (Router) yang didesain oleh MikroTik. RouterBOARD memiliki beragam seri dan interface yang disesuaikan dengan kebutuhan. RouterBOARD menggunakan RouterOS sebagai software / sistem operasinya.

Beberapa contoh Routerboard ini diantaranya adalah RB400, RB600, R52H, R52N, R2N yang merupakan Wireless board dan RB750, RB450G, RB1000 yang merupakan Embeded (sistem minimum) Router.

RouterBOARD memiliki sistem pengkodean tertentu, misalnya untuk RouterBOARD RB433 seperti gambar diatas memiliki pengertian sebagai berikut:


Kode lainnya yang terdapat dibagian dibelakang tipe:
U - dilengkapi port USB
A - Advanced, biasanya level 4 atau diatasnya
H – High Performance, Processor lebih tinggi
R - dilengkapi Wireless Card embedded
G - dilengkapi port Ethernet Gigabit

OK, itulah sedikit gambaran tentang istilah MikroTik, RouterOS dan RouterBoard.

Sumber : http://belajar-it.org/information-corner/mengenal-mikrotik-routeros-dan-routerboard

Apa itu Routing Dinamis ?



ANALISIS PERANCANGAN JARINGAN KOMPUTER

A.      Router Dinamis
Router dinamis adalah router yang me-rutekan jalur yang dibentuk secara otomatis oleh router itu sendiri sesuai dengan konfigurasi yang dibuat. Jika ada perubahan topologi antar jaringan, router otomatis akan membuat ruting yang baru.
Routing dinamis merupakan routing protocol digunakan untuk menemukan network serta untuk melakukan update routing table pada router. Routing dinamis ini lebih mudah dari pada menggunakan routing statis dan default, akan tetapi ada perbedaan dalam proses-proses di CPU router dan penggunaan bandwidth dari link jaringan.
B.      Keuntungan dan Kerugian Router Dinamis
Keuntungan routing dinamis diantaranya :
·         Hanya mengenalkan alamat yang terhubung langsung dengan routernya (kaki-kakinya).
·         Tidak perlu mengetahui semua alamat network yang ada.
·         Bila terjadi penambahan suatu network baru tidak perlu semua router mengkonfigurasi. Hanya router-router yang berkaitan.
Kerugian routing dinamis diantaranya:
·      Beban kerja router lebih berat karena selalu memperbarui ip table pada setiap waktu tertentu.
·      Kecepatan pengenalan dan kelengkapan ip table terbilang lama karena router membroadcast ke semua router sampai ada yang cocok sehingga setelah konfigurasi harus menunggu beberapa saat agar setiap router mendapat semua alamat IP yang ada.
C.      Macam – macam Protokol pada Routing Dinamis
Macam-macam protokol routing dinamis adalah :
1.       RIP (Routing Information Protocol) – menggunakan algoritma distance vector
·         Routing protokol distance vector
·         Metric berdasarkan hop count untuk pemilihan jalur terbaik
·         Jika hop count lebih dari 15, paket dibuang
·         Update routing dilakukan secara broadcast setiap 30 detik
RIP merupakan routing information protokol yang memberikan routing table berdasarkan router yang terhubung langsung, Kemudian router selanjutnya akan memberikan informasi router selanjutnya yang terhubung langsung dengan itu. Adapun informasi yang dipertukarkan oleh RIP yaitu : Host, network, subnet, rute default.
RIP terbagi menjadi dua bagian, yaitu:
a.       RIPv1
RIP versi 1
-   Hanya mendukung routing classfull
-   Tidak ada info subnet yang dimasukkan dalam perbaikan routing
-   Tidak mendukung VLSM (Variabel Length Subnet Mask)
-   Perbaikan routing broadcast
Routing Information protocol versi 1 mempunyai karakteristik:
1.       Distance Vector Routing Protocol
2.       Menggunakan metric yaitu hop count
3.       Maximum hop count adalah 15. 16 dianggap sebagai unreachable
4.       Mengirimkan update secara periodic setiap 30 sec
5.       Mengirimkan update secara broadcast ke 255.255.255.255
6.       Mendukung 4 path Load Balancing secara default maximumnya adalah 6
7.       Menjalankan auto summary secara default
8.       Paket update RIP yang dikirimkan bejenis UDP dengan nomor port 520
9.       Bisa mengirimkan paket update RIP v.1 dan bisa menerima paket update RIP v.1 dan v.2
10.   Berjenis classful routing protocol sehingga tidak menyertakan subject mask dalam paket update.Akibatnya RIP v.1 tidak mendukung VLSM dan CIDR.
11.   Mempunyai AD 120

b.      RIPv2
RIP versi 2
-           mendukung routing classfull dan routing classless
-           info subnet dimasukkan dalam perbaikan routing
-           mendukung VLSM (Variabel Length Subnet Mask)
-           perbaikan routing multicast
Secara umum RIPv2 tidak jauh berbeda dengan RIPv1. Perbedaan yang ada terlihat pada informasi yang ditukarkan antar router. Pada RIPv2 informasi yang dipertukarkan yaitu terdapat autenfikasi pada RIPv2 ini.
RIP versi 2.
Persamaan RIP v2 dengan RIP  v1 :
-       Distance Vector Routing Protocol
-       Metric berupa hop count
-       Max hop count adalah 15
-       Menggunakan port 520
-       Menjalankan auto summary secara default
PerbedaanRIP v2 dengan RIP v.1 :
-       Bersifat classless routing protocol, artinya menyertakan field SM dalam paket update yang dikirimkan sehingga RIP v.2 mendukung VLSM & CIDR
-       Mengirimkan paket update & menerima paket update versi 2
-       Mengirimkan update ke alamat multicast yaitu 224.0.0.9
-       Auto Summary dapat dimatikan
-       Mendukung fungsi keamanan berupa authenticationyang dapat mencegah routing update dikirim atauditerima dari sumber yang tidak dipercaya
2.       IGRP (Interior Gateway Routing Protocol) – menggunakan algoritma distance vector
·      Protokol routing distance vector
·      Menggunakan composite metric yang terdiri atas bandwidth, load, delay dan reliability
·      Update routing dilakukan secara broadcast setiap 90 detik
Interior Gateway Routing Protocol (IGRP) adalah sebuah routing protocol berpemilik yang dikembangkan pada pertengahan tahun 1980-an oleh Cisco Systems, Inc Cisco tujuan utama dalam menciptakan IGRP adalah untuk menyediakan protokol yang kuat untuk routing dalam sistem otonomi (AS). IGRP memiliki hop maksimum 255, tetapi defaultnya adalah 100. IGRP menggunakan bandwidth dan garis menunda secara default untuk menentukan rute terbaik dalam sebuah internetwork (Composite Metrik).
Pada IGRP ini routing dilakukan secara matematik berdasarkan jarak. Untuk itu pada IGRP ini sudah mempertimbangkan hal berikut sebelum mengambil keputusan jalur mana yang akan ditempuh. Adapun hal yang harus diperhatikan: load, delay, bandwitdh, realibility.
3.       OSPF (Open Short Path First) – menggunakan algoritma link-state
· Protokol routing link-state
· Merupakan open standard protokol routing yang dijelaskan di RFC 2328
· Menggunakan algoritma SPF untuk menghitung cost terendah
· Update routing dilakukan secara floaded saat terjadi perubahan topologi jaringan
OSPF adalah sebuah protocol standar terbuka yang telah dimplementasikan oleh sejumlah vendor jaringan.  Jika Anda memiliki banyak  router, dan tidak semuanya adalah cisco, maka Anda tidak dapat menggunakan EIGRP, jadi pilihan Anda tinggal RIP v1, RIP v2, atau OSPF. Jika itu adalah jaringan besar, maka pilihan Anda satu-satunya hanya OSPF atau sesuatu yang disebut route redistribution – sebuah layanan penerjemah antar – routing protocol.
OSPF bekerja dengan sebuah algoritma yang disebut algoritma Dijkstra. Pertama sebuah pohon jalur terpendek (shortest path tree) akan dibangun, dan kemudian routing table akan diisi dengan jalur-jalur terbaik yang dihasilkan dari pohon tersebut. OSPF hanya mendukung routing IP saja.
4.        EIGRP (Enhanced Interior Gateway Routing Protocol) – menggunakan algoritma advanced distance vector
· Menggunakan protokol routing enhanced distance vector
· Menggunakan cost load balancing yang tidak sama
· Menggunakan algoritma kombinasi antara distance vector dan link-state
· Menggunakan Diffusing Update Algorithm (DUAL) untuk menghitung jalur terpendek
Distance vector protocol merawat satu set metric yang kompleks untuk jarak tempuh ke jaringan lainnya. EIGRP menggabungkan juga konsep link state protocol. Broadcast-broadcast di-update setiap 90 detik ke semua EIGRP router berdekatan. Setiap update hanya memasukkan perubahan jaringan. EIGRP sangat cocok untuk jaringan besar.
Pada EIGRP ini terdapat dua tipe routing protokol yaitu dengan distance vektor dan dengan Link state. IGRP dan EIGRP sama-sama sudah mempertimbangkan masalah bandwitdh yang ada dan delay yang terjadi.
5.       BGP (Border Gateway Protocol) – menggunakan algoritma distance vector
·      Menggunakan routing protokol distance vector
·      Digunakan antara ISP dengan ISP dan client-client
·      Digunakan untuk merutekan trafik internet antar autonomous system
BGP merupakan salah satu jenis routing protocol yang ada di dunia komunikasi data. Sebagai sebuah routing protocol, BGP memiliki kemampuan melakukan pengumpulan rute, pertukaran rute dan menentukan rute terbaik menuju ke sebuah lokasi dalam jaringan. Routing protocol juga pasti dilengkapi dengan algoritma yang pintar dalam mencari jalan terbaik.
Namun yang membedakan BGP dengan routing protocol lain seperti misalnya OSPF dan IS-IS ialah, BGP termasuk dalam kategori routing protocol jenis Exterior Gateway Protocol (EGP). BGP merupakan distance vector exterior gateway protocol yang bekerja secara cerdas untuk merawat path-path ke jaringan lainnya. Update – update dikirim melalui koneksi TCP.
Kelebihan dan kekurangan dari protokol Routing Dinamis:
1.       Routing Information Protocol (RIP)
Kelebihan
RIP menggunakan metode Triggered Update. RIP memiliki timer untuk mengetahui kapan router harus kembali memberikan informasi routing. Jika terjadi perubahan pada jaringan, sementara timer belum habis, router tetap harus mengirimkan informasi routing karena dipicu oleh perubahan tersebut (triggered update). Mengatur routing menggunakan RIP tidak rumit dan memberikan hasil yang cukup dapat diterima, terlebih jika jarang terjadi kegagalan link jaringan.
Kekurangan
Jumlah host Terbatas. RIP tidak memiliki informasi tentang subnet setiap route. RIP tidak mendukung Variable Length Subnet Masking (VLSM). Ketika pertama kali dijalankan hanya mengetahuicara routing ke dirinya sendiri (informasi lokal)  dan tidak mengetahui topologi jaringan tempatnya berada.
2.       Interior Gateway Routing Protocol (IGRP)
Kelebihan
support = 255 hop count
Kekurangan
Jumlah Host terbatas
3.        Open Shortest Path First (OSPF)
Kelebihan
Tidak menghasilkan routing loop mendukung penggunaan beberapa metrik sekaligus dapat menghasilkan banyak jalur ke sebuah tujuan membagi jaringan yang besar mejadi beberapa area. Waktu yang diperlukan untuk konvergen lebih cepat.
Kekurangan
Membutuhkan basis data yang besar. Lebih rumit
4.       Enchanced Interior Gatway Routing Protocil (EIGRP)
Kelebihan
Melakukan konvergensi secara tepat ketika menghindari loop. Memerlukan lebih sediki tmemori dan proses. Memerlukan fitur loop avoidance
Kekurangan
Hanya untuk Router Cisco
5.       Exterior Gateway Protocol (EGP)
Kelebihan
Sangat sederhana dalam instalasi
Kekurangan
Sangat terbatas dalam mempergunakan topologi

Sumber / Referensi :
http://yusniaalfisyahrin.wordpress.com/2012/12/07/tentang-routing-dinamis/
http://basriumar12.blogspot.com/2012/06/apa-itu-routing.html

Border Gateway Protocol (BGP)

ANALISIS PERANCANGAN JARINGAN KOMPUTER

Border Gateway Protocol (BGP) adalah protokol yang digunakan untuk routing di jaringan internet. BGP merupakah protokol routing antar Autonomous System (AS). Jika OSPF, EIGRP, atau RIP merupakan protokol routing internal, maka BGP adalah protokol routing eksternal.

BGP pertama dibuat oleh Internet Engineering Task Force (IETF) sebagai RFC 1771 dan digunakan oleh Service Provider sebagai standar untuk routing antar pelanggan mereka, atau antar Service Provider.

Keuntungan utama BGP adalah BGP menggunakan path attributes untuk menentukan jalurnya. Artinya Path yang digunakan BGP diberikan atribut – atribut tertentu untuk menentukan jalur dari sebuah paket. Dengan kata lain BGP memiliki beberapa parameter yang menentukan jalur mana yang dipilih.

BGP dapat berjalan diatas protokol routing lainnya. Mengapa demikian? Saya akan membahasnya di bagian BGP Peering.

BGP Database

Seperti protokol routing dinamis lainnya, BGP juga memiliki database. Database ini dibagi menjadi dua, yaitu Neighbor Database yang menyimpan informasi mengenai peer dan BGP Database yang berisi semua network yang dikenal oleh BGP lengkap beserta atributnya.
Neighbor Database
  
BGP Database

Internal dan Eksternal

Dalam BGP dikenal Autonomous System (AS) karena memang BGP adalah protokol routing antar AS. BGP dapat digunakan untuk routing didalam AS (internal BGP) dan antar AS (external BGP).

Saya contohkan dengan topologi dibawah. Hubungan antara R1 dan R2 menggunakan external BGP dan hubungan antara R2 dan R3 menggunakan internal BGP.

How to Enable BGP

Cara mengaktifkan BGP berbeda – beda untuk setiap perangkat. Kali ini saya akan mencontohkan dengan menggunakan router Cisco.

Perintahnya adalah router bgp <Autonomous-System Number>

    Router#configure terminal
    Router(config)#router bgp 100
    Router(config-router)#

How to do BGP Peering

Tidak seperti Interior Gateway Protocol (IGP), BGP tidak harus peering dengan router yang directly connected. Maksudnya BGP dapat bertetangga dengan router lain walaupun tidak langsung terhubung. Misalkan pada gambar topologi dibawah. R1 dapat langsung peering dengan R3. Asalkan R1 punya konektivitas ke R3, maka peering dimungkinkan

Bagaimana caranya? Di bagian Overview saya sempat membahas bahwa BGP dapat berjalan diatas protokol routing lain. Misalkan terdapat protokol routing OSPF untuk routing dinamis antara R1, R2, dan R3. R1 dapat mengirim paket ke R3 berdasarkan informasi dari OSPF. Protokol routing dinamis atau statis dapat digunakan. Asalkan konektivitas antara R1 dan R3 sudah terbentuk, maka BGP peering dapat dilakukan.

BGP peering juga harus dilakukan secara manual. Artinya secara default, BGP tidak akan berusaha mencari peernya dengan menanyakan ke router yang langsung terhubung. Ini sangat bermanfaat dalam jaringan internet. Misalkan dalam kasus seperti ini. Service Provider di Indonesia bebas melakukan peering dengan negara manapun. Misalkan Service Provider A diklaim memiliki BGP peer dengan Tier 1 Service Provider di Amerika. Hal tersebut dimungkinkan dengan BGP karena BGP peering dilakukan secara manual dan tidak harus dengan router yang langsung terhubung (directly connected)

Di Router Cisco perintahnya adalah demikian neighbor <ip address> remote-as <Remote AS Number>

    Router#configure terminal
    Router(config)#router bgp 100
    Router(config-router)#neighbor xx.xx.xx.xx remote-as 100

BGP Source Address

Seperti gambar topologi dibawah, R1 dapat melakukan peering dengan R2. Peering dapat dilakukan ke interface fisik (10.1.1.2) atau ke interface loopback (192.168.2.2)

Peering dengan interface fisik memiliki kelemahan. Jika interface tersebut mati, maka routing update tidak dapat diterima oleh peer. Salah satu keuntungan peering dengan interface Loopback adalah jika interface fisik mati atau mengalami gangguan, maka interface lain dapat digunakan. Misalkan apabila interface 10.1.1.2 mati, maka R1 akan mengirim routing update melalui R3, kemudian diteruskan ke interface Loopback R2. Konektivitas akan terus berlanjut tanpa terpengaruh interface fisik yang mati.

Kebanyakan implementasi BGP menggunakan teknik ini. Sama seperti yang saya implementasi, peering ke interface Loopback memiliki keuntungan. Syaratnya interface Loopback harus diadvertise oleh routing protokol dibawah BGP, misalkan oleh OSPF atau static route. Singkatnya interface Loopback tersebut harus dikenal oleh router yang bersangkutan. Misalnya interface Loopback R1 harus mengenal interface Loopback R2.

Berikut perintah untuk mengubah BGP source address di router Cisco neighbor <ip address> update-source <interface Loopback>

    Router#configure terminal
    Router(config)#router bgp 100
    Router(config-router)#neighbor xx.xx.xx.xx update-source loopback0


Advertising the Network

Network statement pada BGP sedikit berbeda dengan network statement pada EIGRP atau OSPF. Network statement pada EIGRP atau OSPF menunjukkan interface mana yang akan di-advertise oleh protokol tersebut. BGP menggunakan network statement untuk menentukan network mana dari local router yang akan di-advertise oleh BGP. Masing-masing network ini tidak harus berasal dari interface di local router bersangkutan. Asalkan network tersebut ada di routing table, maka network tersebut dapat di-advertise ke peer.

Contoh perintah untuk router Cisco adalah sebagai berikut : network <ip address> mask <subnet mask>

    Router#configure terminal
    Router(config)#router bgp 100
    Router(config-router)#network xx.xx.xx.xx mask yy.yy.yy.yy

Network advertisement pada BGP perlu dilakukan secara manual. BGP tidak akan advertise network yang di-advertise oleh IGP seperti OSPF dan EIGRP. Misalkan pada router terdapat network yang berasal dari advertisement OSPF. Maka network tersebut tidak akan di-advertise kembali oleh BGP secara otomatis.

Sumber :  http://robertalvianus.wordpress.com/2012/06/29/border-gateway-protocol-bgp

Open Shortest Path First (OSPF)

Overview
Open Shortest Path First (OSPF) adalah sebuah routing protocol yang didefinisikan oleh RFC 2328. OSPF adalah salah satu dari Interior Gateway Protocol (IGP) yang biasanya digunakan untuk routing protocol dalam satu routing domain yang sama.

Distance Vector vs Link State

Terdapat 2 macam routing protocol, yaitu Distance Vector dan Link State. Distance vector menggunakan kalkulasi distance atau jarak serta outgoing interface untuk memilih jalur yang paling baik ke network tujuan. Contoh dari Distance Vector adalah RIP, IGRP, dan EIGRP. Link State memantau status dan tipe koneksi setiap link, kemudian membuat kalkulasi metric berdasarkan informasi tersebut. Contoh dari Link State adalah OSPF.
Distance Vector sering juga disebut sebagai routing by rumor. Artinya dia akan memiliki informasi path berdasarkan rumor. Misalkan pada gambar diatas. Terdapat 4 buah router, A, B, C, dan D. A memiliki informasi network yang terhubung dengannya, misalkan 1.1.1.0/24. A akan melakukan advertisement ke B dan C mengenai network 1.1.1.0/24. B akan menerima advertisement tersebut dan menuliskan demikian di routing table “Untuk menuju ke 1.1.1.0/24, saya harus melempar ke A dan metricnya adalah xx” Nilai metric biasanya dikalkulasi dengan melihat faktor jumlah hop, bandwidth, delay, dll tergantung dari routing protocolnya (misalnya EIGRP akan melihat bandwidth, delay, mtu). C juga akan bekerja demikian setelah mendapatkan advertisement dari A. Proses selanjutnya B akan melakukan advertisement ke D, isinya demikian “Hey D, kalau mau menuju ke 1.1.1.0/24, kamu lempar saja ke saya. Saya tahu harus melempar kemana” C juga akan melakukan hal yang sama. Akibatnya D akan mendapat advertisement dari router B dan C. Router D akan mulai mengkalkulasi metric yang diperoleh dari B dan C. Kesimpulannya, D mengetahui informasi mengenai network 1.1.1.0/24 berdasarkan rumor dari B dan C. D sebenarnya tidak tahu network 1.1.1.0/24 berada dimana. D hanya tahu jika ingin menuju ke 1.1.1.0/24, cukup melempar ke B atau C.

Link State bukan merupakan routing by rumor. Setiap router di dalam link state routing domain memiliki informasi yang sama mengenai network secara keseluruhan. Kembali ke contoh diatas, D mengetahui bahwa 1.1.1.0/24 dimiliki oleh router A. D akan melakukan kalkulasi misalnya dengan algoritma shortest path first untuk menentukan jalur menuju ke A. D memiliki gambaran keseluruhan secara detail mengenai network map, kondisi setiap host, dan kondisi path yang akan dilalui.

Open Shortest Path First (OSPF)

Seperti penjelasan link state diatas, link state akan mengkalkulasi path menuju suatu node berdasarkan informasi. Informasi yang dipertukarkan adalah Link State Advertisement (LSA). Pada saat awal node akan melakukan konvergensi OSPF, seluruh node akan saling bertukar LSA sehingga terjadi flood dalam network. Proses ini dilakukan untuk menuju kondisi adjacency antar node. Dalam kondisi adjacent, maka kedua node dapat saling bertukar LSA.
Sumber : http://robertalvianus.wordpress.com/2013/01/08/open-shortest-path-first-osp